Kamis, 06 September 2012

KERJASAMA EKONOMI DALAM ISLAM.


KERJASAMA EKONOMI
 
      Berikut ini akan dibahas kerjasama ekonomi menurut hukum Islam yang mencakup syarikat (syirkah), perbankan, dan lembaga keuangan nonbank.

1. Syarikat
Islam mengajarkan umatnya untuk tolong menolong (ta’awun), misalnya berbentuk kerja sama, sebagaimana firman Allah swt. Berikut . 
Artinya;
…. dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran (Q.S. Al-Maidah:2)
Kerja sama dala bidang ekonomi dikenal dengan istilah syarikat atau syirkah, yaitu perjanjian antara dua orang atau lebih untuk menjalankan usaha dengan tujuan membagi keuntungan. Selanjutnya, syarikat dapat dibagi dua, yaitu syarikat harta dan syarikat kerja.
a. Syarikat Harta
Syarikat harta artinya akad dari dua orang atau lebih untuk bekerja sama di bidang permodalan dengan tujuan bisnis dengan cara membagi untung dan rugi sesuai dengan perjanjian.
Allah swt. Berfirman dalam hadis qudsi, sebagaimana dijelaskan Rosulullah saw. Berikut.
Artinya
Dari Abi Hurairah, Rosulullah bersabda, “ Allah berfirman, ‘Aku adalah ketiga dari dua orang yang berserikat selama salah seorang di antaranya tidak berkhianat terhadap temannya. Apabila salah seoarng diantara keduanya berkhianat, maka Aku keluar dari perserikatan keduanya’,” (H.R. Abu Daud dan Al-Hakim)
Adapun rukun syarikat harta adalah sebagai berikut
1) Ada sigat (lafal akad), yaitu kalimatnya mengandung arti izin untuk menjalankan barang persyarikatan.
2) Orang yang bersyarikat, dengan syarat.
- akil (berakal)
- balig (dewasa)
- merdeka (bukan hamba sahaya), dan
- tidak dipaksa
3) Modal yang disepakati, dengan syarat.
- modal berupa uang atau jenis barang yang dapat diukur atau ditakar,
- modal hendaknya berupa uang atau jenis barang dan bukan piutang, dan
- keuntungan atau kerugian ditanggung bersama, sesuai dengan besar kecilnya modal atau sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati.
Syarikat harta dapat berbentuk PT (perseroan terbatas), CV, dan firma dengan syarat harus mempunyai AD (anggaran dasar) dan ART (anggaran rumah tangga) serta mempunyai akta notaris.
b. Syarikat Kerja
Syarikat kerja adalah kerja sama antara dua orang atau lebih untuk melakukan usaha yang hasilnya dibagi menurut perjanjian.
Hukum syarikat kerja adalah sah atau boleh menurut ulama fikih, kecuali Imam Syafi’i.
Manfaat syarikat kerja adalah sebagai sarana atau cara yang baik untuk kemajuan dan kemakmuran bersama. Banyak pekerjaan yang penting, sulit, dan sukar yang tidak mungkin dikerjakan oleh perorangan, serta membutuhkan modal yang tidak sedikit maka hanya dengan syarikat harta semuanya akan dapat teratasi.
Selanjutnya, ada beberapa bentuk syarikat, antara lain mudarabah atau qirad, musaqah, muzaraah, dan mukhabarah.
Adapun rukun mudarabah, antara lain :
·         modal, harus dengan tunai yang diketahui jumlahnya;
·         pekerjaan, jenis pekerjaan tidak boleh dibatasi, termasuk tempat waktu, dan barang yang akan diperdagangkan.
·         Keuntungan, pada saat berlangsungnya akad keuntungan harus sudah ditentukan dengan rinci cara pembagiannya;
·         Pemilik modal, yang menjalankan modal harus memenuhi persyaratan, yakni ada beberapa hal yang harus diperhatikan bagi penerima modal,yaitu;
·         Penerima modal tidak boleh menggunakan harta mudarabah untuk kepentingan pribadi
·         Penerima modal tidak boleh menjalankan modal untuk usaha yang memiliki resiko tiggi, kecuali ada izin dari pemilik modal.
Dalam kerja sama mudarabah terdapat unsur tolong-menolong yang saling menguntungkan. Banyak orang yang mempunyai modal, tetapi tidak dapat menjalankan modalnya di pihak lain, banyak orang yang mempunyai keahlian, ketrampilan, dan kecakapan dalam usaha, tetapi tidak mempunyai modal. Dengan sistem mudarabah, keduanya dapat dipadukan sehingga dapat menghasilkan sesuatu yang menguntungkan. Denagan demikian, sistem ini merupakan suatu cara untuk pemerataan penghasilan masyarakat.
Rosulullah saw. Bersabda sebagai berikut.
Atinya :
Tiga perkara yang diberkahi Allah, yaitu jual beli sampai batas waktu, qirad, dan mencampur sya’ir dengan gandum untuk keperluan rumah bukan untuk dijual. (H.R. Ibnu Majah)
2) Musaqah
Musaqah adalah bentuk kerja sama antara pemilik kebun dengan penggarap kebun dengan perjanjian bagi hasil (production sharing). Jumlah ditentukan sesuai dengan kesepakaan pada waktu berlangsung akad.
Adapun rukun musaqah, antara lain  :
ü  perlu ditetapkan masa berlakunya perjanjian masaqah, sekurang-kurangnya ditentukan menurut waktu kegiatan panen;
ü  pada saat berlangsungnya akad, harus ditentukan dengan rinci cara pembagian hasilya;
ü  pemilik kebun dan penggarap kebun harus berakal, balig dan merdeka.
ü  Musaqah mempunyai mafaat tolong-menolong yang saling menguntungkan. Banyak orang yang memiliki kebun yang halus, tetapi tidak terurus. Sebaliknya, banyak orang mempunyai keahlian, tetapi menganggur karena tidak mempunyai lahan. Dengan musaqah, keduanya dapat dikombinasikan sehingga sama-sama mendapatkan keuntungan.
Musaqah juga salah satu cara untuk meratakan penghasilan dan upaya membantu program pengentasan kemiskinan yang di negeri ini didominasi oleh kaum muslimin.
Nabi Muhammad saw. Sendiri pernah melakukan sistem itu, sebagaimana sabdanya berikut.
Artinya:
Dari Ibnu Umar, Sesungguhnya Nabi Muhammad saw, telah menyerahkan kebunnya kepada penduduk Khaibar untuk dipelihara dengan perjanjian merdeka akan diberi sebagian dari penghasilannya, baik dari buah-buahan atau dari hasil palawija. (H.R.Muslim)
3) Muzaraah dan mukhabarah (Paroh Sawah atau Ladang)
Muzaraah adalah bentuk kerjasama antara pemilik tanah (sawah/lading) dan penggarap tanah dengan perjanjian bagi hasil menurut kesepakatan pada waktu akad, sedangkan benih atau bibitnya dari peggarap tanah. Jika benihnya berasal dari pemilik tanah, disebut mukhabarah.
Adapun syarat muzaraah dan mukhabarah, antara lain :
§  pemilik kebun dan penggarap harus orang yang balig dan berakal
§  benih yang akan ditanam harus jelas dan menghasilkan,
§  lahan merupakan lahan yang menghasilkan, jelas batas-batasnya, dan diserahkan sepenuhnya kepada penggarap.
§  Pembagian hasil untuk masing-masing harus jelas penentunya, misalnya setengah, sepertiga, atau seperempat, dan
§  Jangka waktunya harus jelas menurut kebisaan.
Islam memperbolehkan kerja sama dalam bentuk muzaraah dan mukhabarah. Kerja sama ini saling menguntungkan. Hal ini menunjukkan bahwa banyak orang kaya memiliki sawah atau ladang. Dengan sistem muzaraah dan mukhabarah, dapat membantu pengentasan kemiskinan di negeri ini yang mayoritas masyarakatnya muslim.
2. Perbankan
Perbankan mempunyai peranan penting dalam memajukan kegiatan ekonomi suatu Negara yang sedang berkembang, seperti Indonesia.
Kebutuhan umat terhadap bank yang berdasarkan syariat Islam dapat dilihat dari dua kepentingan sebagai berikut.
a)      kepentingan ibadah, yaitu melaksanakan perintah Allah swt. Dan menjauhi segala larangan-Nya. Hal ini menyangkut riba karena Islam sangat melarangnya.

b)       Kepentingan muamalah, yaitu melaksanakan kegiatan usaha untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat. Hal ini menyangkut potensi dana dan peran umat islam dalam penggunaan dana untuk kegiatan usaha.

0 komentar:

Poskan Komentar